Tuesday, 17 July 2007
(hmm.. just realized 1 month to go to 17 August

yeay!!)
The best thing (well, TWO best thngs) dari Indonesia embassy di Singapore adalah:
1. Kantin 'Jawa Timur' yang jual pecel dan bahwan jagung yang enaaaaak bgt (scale 4.5 of 5). Seharusnya mereka buka resto aja di Lucky Plaza (imagine! cabang resmi dari Kedubes!), pasti laris manis!

2. Pemandangan dan suasana di perjalanan menuju Indo embassy yang paling seru kalo dinikmati dengan berjalan kaki dari halte bus 111. Sepanjang jalan yang tenang dan hijau ini hanya ada beberapa rumah yang indah, selebihnya adalah hutan dan bukit yang menyemak rimbun. Kita bisa denger suara serangga hutan, di tengah kota ajaib ini.. Tuhan memang pelukis alam yang luar biasa..
Anyway, dalam perjalanan pulang dari embassy menuju halte bus, ada poster yang sederhana sekali: hanya di-print di atas kertas biasa dan dibungkus plastik bening sehingga ngga basah kalo hujan.
Judulnya: LOSING BIRD
Seperti bisa diduga, isinya memberitakan tentang hilangnya si burung ini, kapan, di mana, dan dilengkapi dengan foto terbaru si burung ukuran 3x4 dengan latar belakang biru

Burungnya memang cantik. Seekor kakatua i guess, kuning jreng, sekuning si bunder kepala kuning of YM.
Nothing amazing. Burung, seperti manusia-manusia di sekitar kita, datang dan pergi. Barang-barang juga ada dan tiada (dibeli, dipakai, rusak, hilang, luntur, robek, lenyap, menguap, mencair, menyublim..

)
Yang amazing adalah di bagian akhir poster itu ada tulisan REWARD. Untuk yang menemukan akan dapet hadiah dari si pemilik yang harganya jauh lebih tinggi daripada kalo dia beli lagi seekor burung yang sama.
I guess this what people called as attachment.
Kita sering punya sesuatu yang begitu berharga. Entah itu hp yang dibeli dengan gaji pertama, kartu palentin yang diberi oleh pacar, atau seekor kucing yang kecil kurus kotor yang dipungut dari kos-kosan sebelah..
Yang sering kita lupa adalah betapa kita begitu 'terikat' dengan barang-barang itu sampai kita lupa bahwa seperti kita, barang-barang itu pun fana, tidak kekal, tidak abadi.
Dan bahwa kadang-kadang ada yang lebih berharga daripada barang-barang itu..
Waktu kecil dulu, seberapa sering kita bertengkar dengan saudara/kawan karena rebutan mainan. Kita akhirnya bangga dan senang karena akhirnya kita yang menang dan mendapatkan mainan itu. Tapi coba ingat-ingat, berapa banyak mainan yang dulu kita dapatkan dengan merampas airmata orang lain itu masih kita miliki sampai sekarang. Mostly sudah hilang, kan?
Mengingatkan saya pada seorang teman dekat, Ade, yang pernah bercerita tentang sebuah buku. Hanya buku gratisan, seinget Ayu, dapet dari bank atau apalah. Suatu hari salah satu abangnya (Ade punya beberapa Abang) liat dan pengen buku ini. Well, buku ini memang punya Ade, dan memang cuma satu. Ade waktu itu berkata, tidak!. Dan memang akhirnya si abang tidak pernah memiliki buku itu. Sampai saat ini.
Beberapa tahun yang lalu sang abang meninggal karena kecelakaan sepeda motor, dan hal pertama yang disesali Ade adalah kenapa dulu tidak diberikan saja buku itu kepada abang..
Toh hanya sebuah buku gratisan.
Toh sekarang juga buku itu sudah hilang entah kemana.
Sejak itu Ade bertekad, apapun barang yang ia miliki, bila ada teman/saudara yang menginginkannya, Ade akan berikan.
Karena Ade tau, suatu saat mereka pasti akan berpisah. Either Ade duluan yang pergi, atau orang itu.
Untuk Ade Shita Ekadini Nasution yang begitu saya kagumi,
Singapore,
Warung Ayam Penyet Ria
